Berlibur rasa leluhur

A. Okhi Irawan Wiryanatakusumah

A writer, photographer, social activism enthusiast, heavy metal addict. at AOKHI
Loves things called Ninita-and-Cicipanda. Animals lovers. Tahu Gejrot masters. Heavy hooligans of Bakso Malang Parto. A self-driven independent thinker whose tryin to redefine the gap beyond simplicity and hierarchy. Seekin what was the meaning of truth nor life worth livin! And lastly, definite absolute passionate kissers. Ha!

Latest posts by A. Okhi Irawan Wiryanatakusumah (see all)

Hapunteun anu kasuhun, Hampura  anu kateda, luhur baur bahe carek neda jembar dihampura…..pun….ampun ampun…..

Membaca artikel ini saya ingat eyang saya, saya menyebutnya Aki Katma [saya agak lupa nama tepatnya], dari pihak Uwak, suami kakaknya ibu yang berasal dari Tasik.

Suatu ketika masa liburan sekolah tiba. Dan biasanya itu adalah hari-hari yang menyenangkan karena harus terlepas dari beban mengejar prestasi di sekolah. Pada moment seperti ini biasanya saya dihadapkan pada pilihan destinasi berlibur yang beragam karena dari keluarga ayah saya banyak sekali sanak-saudara yang bahkan belum pernah mendapat kunjungan kenegaraan versi saya ketika SD sampai awal SMP.

Nah, pada pertemuan awal 90-an saya menyempatkan diri untuk berlibur bersama Uwak Nono ke kampung halamannya di Tasik tersebut. Sang Uwak memang rajin menjemput para anak-anak adik-adiknya apabila musim berkunjung tiba. Dari Bandung biasanya kami berangkat dini hari, merapat berhenti sejenak subuh di masjid yang dilewati sepanjang jalur timur. Jadi tujuannya kami dapat menikmati pagi dipematang sawah Aki Ibrahim dan Nini Tasik.

Di mobil biasanya ada Uwak Nono dan Uwak Haji, kakak mamah. Bareng menemani biasanya kalau tidak adik saya berarti kakak saya, salah satu anak dari Uwak saya tersebut.

Sepanjang perjalanan kami berhenti hanya dua kali. Pertama subuh. Kedua pas jam pagi ketika pasar tradisional setempat sedang hangat mengeliat petanda mendekati gerbang desa. Disini, biasanya mencari kudapan. Cemilan penganjal isi perut. Bisa berupa bacang. Gorengan. Atau bubur dan kupat tahu petis. Yang terakhir menu makanan istant favorit kalau sedang berpergian. Cukup dibungkus dan dapat dimakan sembari menikmati lintasan jalan beton, pematang sawah, dan rindang pohon sepanjang kota Tasik menuju ke pedalaman desa.

Tepat dimuka desa, dengan pelan kami mendinginkan laju mesin mobil sejenak sambil melihat apakah jalan masih aman untuk dilewati, ini biasanya pas liburan tepat musim penghujan. Maklum jalanan masih didominasi lumpur merah. Paling mewah adalah jalan berbatu. Pada waktu itu.

Mobil yang ideal untuk wilayah ini seharusnya Land Rover atau kendaraan dengan tipe ‘ban tahu’. Itu loh yang mempunyai kembang kotak-kotak besar yang siap melahap medan basah berlumpur.

Karena mobil yang ada adalah tipikal pelahap jalanan-lembut aspal berarti kami harus sedia pelan. Merayap menjalani lelakon, berharap cepat-selamat menuju tujuan. Hehe. Dan yang paling seru adalah jikalau mobil sudah masuk kubangan dan terjebak disana. Mobil keluarga keluaran 80-an berwarna putih itu pun harus disulap menjadi kendaraan offroad. Kerap kali pas terjebak tak dapat bergerak. Solusinya adalah tambang yang diikatkan ke pohon lalu dibantu ditarik serta didorong dari belakang oleh masyarakat sekitar yang kebetulan kami lewati.

Dan tugas saya adalah navigator yang siap dengan perintahnya. Cukup berat juga tugas sebagai navigator ternyata. Hehe.

Setelah selesai, biasanya sambil berpamitan dan  mengajak mereka yang telah iklas membantu untuk sudi mampir ke rumah kelahiran Uwak saya yang tak terlalu jauh dari muka desa.

Sebagai anak usia sekolah tugas pertama ketika sampai di rumah bilik panggung khas tanah priangan adalah bertemu-kangen dengan Aki-Nini Tasik. Aki Ibrahim itu tak banyak kata tapi cukup ringkas ketika mengerjakan pekerjaan rumah seperti membajak sawah serta mengolah kolam ikan dibelakang dapur keluarga, dan kegiatan lainnya.

Menemui pemandangan pematang sawah dan kolam ikan bagi si anak kota adalah sesuatu yang mewah. Mungkin bagi generasi jauh kedepan nama-nama tersebut hanya dapat dibayangkan saja ketika perubahan demografik suatu wilayah merambat dalam kilasan siber.

Nah, yang paling menyenangkan dari waktu liburan bersama tersebut adalah aktifitas ‘guyang’ dan ‘ngabedahkeun balong’. Kata pertama berarti aktifitas menceburkan diri ke dalam penampung air atau kolam. Dan kata kedua berarti membedah kolam ikan dan memanen seisi jagat kolam tersebut. Dapat dibayangkan bukan, betapa girangnya anak seusia SD. Meloncat dan menceburkan diri sambil mencari ‘bibit’. Ini adalah ikan besar diatas rata-rata yang ada di ‘kulah’, kolam. Beratnya capat mencapai kiloan. Uniknya tradisi keluarga Uwak selalu memisahkan ikan besar tersebut dan membiarkannya hidup dikolam sebelahnya sampai bertahun-tahun kemudian menunggu waktu untuk ‘dikurbankan’.

Aktifitas tenggelam di area kolan ini bisa mencapai seharian. Pertama mengingat besar kolam. Kedua, pemilahan besaran ikan. Yang mana untuk dimasak. Untuk dipelihara kembali. Untuk dibagikan. Dan dibibitkan untuk regenerasi. Dan yang dibawa pulang.

Proses membedah kolam ikan ini melibatkan tetangga sekitar. Dahulu saya hapal salah satu dari mereka sebagai teman ‘guyang’ tersebut. Dari kerabat saya masih menginggat nama Pepeh, Yadi, Bowo, Mang Juraeji, Bi Titi, Wa Parman, dan wajah-wajah masa lalu itu yang walaupun pudar tapi masih jelas bekas imajinya.

Nah, yang paling membekas adalah salah satunya Ki Katma yang saya sebutkan dari paragraf awal.

Awalnya kami bertemu pandang ketika aktifitas pagi mulai merambat. Aki Ibrahim yang biasanya bergegas waktu itu sedang membersihkan kolam ikan dihalaman rumah. Dan dengan alaminya interaksi antara Ki Katma dan Aki Ibrahim berlangsung. Tak lama setelah menyapa orang-orang di dalam rumah Ki Katma lantas bergegas kembali ke halaman depan tempat saya duduk sambil bertanya-tanya sosok asing gerangan.

Dari pancaran wajahnya yang teduh. Gurat keriput kehidupan. Dan sorot yang tajam. Saya memastikan bahwa aki [kakek] tersebut sudah sepuh. Saya belajar memberanikan diri bertanya didampingi Aki Ibrahim yang masih asik menemani di kolam kecil beranda rumah. Kira-kira ingatan saya dua puluh tahun kebelakang ketika mengingat sebuah percakapan dan pertemuan terakhir dengan sesepuh tersebut seperti anak polos yang selalu penuh antusiasme ditengah penasaran seperti begini :

“Aki damang, nuju naon mo’e panon wae, siduru?”

Bertanya apakah sehat dan baik-baik saja serta kenapa nampak asik berjemur dengan matahari pagi.

“Eh, kasep teh ti Bandung, iraha dongkap? Muhun. Biasa weh moe ngahaneutan.

Jawabnya, adalah sebuah pertanyaan kembali tentang kapan tepatnya saya datang ke rumah ini dari Bandung lalu ditimpali dengan kesetujuannya tentang berjemur menghangatkan diri dengan matahari pagi.

Lalu Aki Ibrahim menyebutkan bahwa kakek tua tersebut adalah saudara yang sejaman dengan lehuhurnya buyutnya beliau. Berarti orangtuanya orangtua kakeknya Aki Ibrahim adalah yang sejaman dengannya. Nah loh! puyeng kan. Impossible, bukan? Kalau di Sunda ada hirarki tujuh kehidupan sebelum kakek, yaitu buyut, bao, jangkawareng, udeg-udeg. Sebagai anak SD yang lugu lantas saya berhitung, dan bagi saya nampak irrasional untuk menghitung berapa usia yang pas. Takaran random juga bukan hal yang tepat [seperti menakar survey pemilihan umum saja].

Lalu saya bertanya tentang umur beliau, “Pami yuswa Aki sabaraha. Sepuh. Sehat waringkas keneh dan masih jalan-jalan.” Saya menambahkan keheranan saya dengan kalimat pertanyaan kembali kepadanya kenapa masih bisa jalan-jalan saja di usianya yang tidak terbilang muda dengan tongkat tua setia menemani tetilas kaki yang dengan telanjang menyusuri hari sampai detik ini dengan sehat. Berapa usianya?

Beliau bilang tidak ingat karena tidak punya catatan tertulis.

Dengan sekonyong, “Apakah sudah hadir dijaman kerajaan?”

“Ah, eta mah ka belah dieukeun keneh atuh, Cep.”

Pertanyaan ini yang paling jelas terngiang di pertemuan tersebut. Dan jawabannya pun tak pernah pudar di memori saya. Mengenai kehadirannya di jaman kerajaan beliau singkat menjawab bahwasanya era itu masih terlalu baru. Saya menyimpulkan beliau dilahirkan pada masa sebelum itu. Dan tentunya saya makin heran. Ini tahayul atau bukan. Tapi faktanya ada. Dan ini adalah legenda hidup dilingkungan keluarga Uwak Tasik juga tetangga-masyarakat sekitarnya.

Uwak Nono, berkisah, kesukaan Aki tersebut adalah menyaksikan sepakbola. Cerita menariknya jikalau si Aki sudah memfavoritkan satu kesebelasan dan beliau duduk dibelakang tim kesayangannya tersebut bias dipastikan tim tersebut tidak akan kalah. Alias menang. Karena gawang dijamin tidak akan kemasukan satu gol pun.

Sunda itu gaib kalau kata Ki Dudung, salah seorang Kasepuhan Jawa Barat. Mungkin istilah ini yang pas merepresentasikan tipikal generasi Pasundaan seperti Ki Sepuh Katma tersebut.

Lantas ditengah semua cerita oral tersebut saya mengajukan keheranan kembali tentang rahasianya panjang umur. Saya mendapat kesimpulan dari jawaban beliau bahwasanya hidup harus selaras dengan alam. Ada ‘tata-titi’, ada siklus alam yang berputar dan tugas manusia membacanya.

Saya belajar mendengar dan memahami. Tak mudah bagi anak SD seusia saya waktu itu. Begitupun ditarik ke secuil penguasaan pemahaman saya sekarang. Mereka yang beranjak dan sanggup membaca itu semua akan menjadi penyaksi pusaran waktu.

Tak berapa lama Ki Katma beranjak setelah merapalkan kalimat-kalimat Sunda yang baru saya dengar diusia semuda itu, dulu. Merasakan itu sebagai pantun bertuah do’a. Dan sebaliknya. Syahdu.

Kahatur kanggo karuhun ti nini-aki

ieu anaking neda widi panghapunten,

mugia diaping barokah

aya dina kamulyaan tur kawilujengan

Wilujeng weungi pamiarsa.