Bakso Malang Parto murah-meriah-muntah!

Bakso Malang Parto, foto oleh Brokuliner.
Saya emang hobi melahap makanan kuliner, terutama cemilan dengan rasa pedas dan nyes. Beberapa menu favorit lokal saya adalah bakso. Iya, yang bulet itu loh. Nah, Parto salah satunya. Usaha kaki lima yang sudah diritis sejak delapan puluhan tersebut dilakukannya seorang diri. Dengan maksud mengadu nasib di kota-kota impian Parto akhirnya mendarat di Bandung dan mendirikan usaha yang digagas berdasarkan identitas kota asalnya. Bakso Malang Parto.
 
Parto mengaku usahanya berjalan dan bertahan hingga sekarang karena beberapa hal. Pertama, trial and error, sejak pertama kali membuat usaha ini Parto sama sekali belum menguasai ilmu dapur sesungguhnya tentang kaidah berbakso yang baik dan benar. Hehe. Seiring waktu rahasia dapur dan ritual pengolahan pun dikuasai. Rasa bakso, siomay, olahan ‘keringan’, dan racikan bumbu Parto menjadi trademark yang khas dan kuat di lidah penggemarnya.
 
Kalau Anda lagi santai keunggulan rasa Bakso Malang Parto bisa Anda jajal. Lidah saya sih untuk urusan ini biasanya maknyos seperti Om Gondan Winarno. Eh, Om Bondan maksudnya. Huhu. Selain bakso, Parto pria lajang ini akan sigap segera menyajikan segelas Teh Cap Dua Tang ala seduhan Parto di periuk ajaib sepuhnya dari sore hingga tengah malam menjelang persilangan hari. Meski penyajian alakadarnya tapi urusan kebersihan Parto cukup resik dan telaten. Nah, yang tak kalah penting, untuk urusan harga, bagi Anda yang berkantong cekak seperti saya masih bisa mendapatkan porsi full seharga Rp. 5000,- s/d 12.000,-!
 
Nah, lho! Kreyep-kreyep nih lidah!
 
Bakso Malang Parto sekarang pindah ke Cihampelas, beberapa meter dibawah Aston Tropicana – Cihampelas.

The last kampong standing

Amongst all Government’s massive development programs that have to think about is environment ecology or its green sustainibility amidst its citizens rights to staying in their natural inhabitants in other side. Government has clearer minds to wisely enough of not filling on all the corners of the country side with concrete-jungles. An ideal future’s living area has to have a warmth identities that mostly Kampongnese had, the green climates, and ease with traffic jams but easily to gaining accesses of the city’s infrastructures and its civilized modernity.

Now playing Iwan Fals’s Ujung aspal pondok gede.