Aset atau pejet?

Ilustrasi. Foto oleh Banten Today.

Sebagai korporasi tentunya beda dengan tengkulak. Karyawan adalah aset dimana perkembangannya wajib ditingkatkan untuk produktifitas perusahaan. Ini contoh sebuah perusahaan sehat. Nah, kalau kita bekerja dengan perusahaan-rentenir akan berbanding terbalik.

Tenaga-energi kita diperas dan disedot, digenjot produktif sementara hak dasar kewajban dan jaminan asuransi tak pernah diindahkan. Jangan kata ada kesempatan untuk presentasi program dan kelas yoga, cuti hamil yang notabene adalah kehendak Tuhan dan semesta saja kadang tak diindahkan. Menganggu produktifitas perusahaaan katanya. Coret. Rekrut SDM baru. Mentalitas perusahaan seperti ini hanya berlaku di jaman kolonial.

Coba bandingkan dengan yang satu INI.

Seniman sesungguhnya

Maria Magdalena Rubinem foto dokumentasi Tribun News.
Selebritas dan seniman, celebrity dan artist. Dua kata ini seakan dipraktikan mengandung pengertian sama antara satu dengan lainnya. Saya memaknai kata pertama mengacu pada individu yang menekuni peran keterampilannya yang dipenuhi dengan pernak-pernik duniawi, tendensius glamor. Kesenian sebagai konsumsi semata.
Sedangkan padanan sinonim seniman atau artist dalam serapan asal bahasanya mengandung pengertian pada lelaku seorang individu dalam menjalani proses berkesenian. Tendensius total pada harfiah ‘seni untuk seni’. Kesenian untuk ekspresi budaya. Apresiasi material mungkin menjadi prioritas kesekian ketimbang kualitas berkesenian itu tersendiri.
 
Melalui artikel ini, ada kisah Mbah Rubinem di hari senjanya memberikan pelajaran hidup sederhana yang bersahaja dan tak lekang menyerah dihantam prahara waktu.